Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat prestasi seorang anak dan tentunya para orang tua memegang peranan penting dalam hal ini. Seberapa besar dan bagaimana peran tersebut, berikut wawancara Bintang Pelajar dengan kak Seto pakar pendidikan anak.
Faktor apakah yang mempengaruhi tingkat prestasi sekolah seorang anak?
Pertama, Motivasi internal, yah motivasi internal itu memang berasal dari keinginan anak untuk belajar. Tentunya motivasi internal ini akan terbangun jika anak merasa proses belajarnya menyenangkan. Tidak ada hal yang membuat anak jadi patah semangat, atau membuat anak menjadi memiliki konsep diri yang negatif, misalnya selalu dikatakan -ah, kamu bodoh-, tidak mengalami kegagalan yang terus menerus, karena itu semua dapat mematikan motivasi internal. Nah itu semua juga bisa tercipta jika hal yang kedua ada, yaitu adanya suasana belajar yang kondusif baik di rumah maupun di sekolah. Kalau di rumah, ya tentunya dorongan dari orang tua, tidak ada paksaan. PR-nya juga PR-PR yang menyenangkan tentang hidup sehari-hari, bukan sesuatu yang terlalu abstrak. Nah, di sekolah juga demikian, guru bisa menjelaskan dengan cara yang menarik. Materinya relevan dengan kehidupan anak-anak, lalu dipadukan antara unsure matorik, pskomotorik dan afektif, gitu.
Lalu, dimana peran/posisi orang tua dalam meningkatkan prestasi anak?
Oh, sangat central, saaangat central! Kuncinya di orang tua, kalau orang tua, misalnya ada keteladanan, menunjukkan kalau belajar itu mengasyikkan, kemudian ya, ehm mempersiapkan suasana belajar, kemudian sarana dan prasarana belajar, baik ruang belajarnya ada, buku-bukunya tersedia lengkap, kemudian ada dialog yang konstruktif antara anak dan orang tua misalnya.
Apa yang harus dilakukan orang tua?
Yang harus dilakukan orang tua adalah harus menjalin komunikasi yang efektif dengan anak. Orang tua harus tahu anak tuch lagi ada masalah apa, jangan dicuekin dan jangan terlalu dituntut terlalu banyak gitu.
Banyak orang tua menganggap anak usia SMP-SMA udah bisa belajar sendiri, sudah dewasa, sehingga orang tua tidak perlu lagi mendampingi anak dalam belajar, menurut Kak Seto bagaimana?
Saya kira enggak juga yach, tetep ada, artinya menjadi fasilitator saja, bukan sekedar yang menjadi sumber belajar satu-satunya hanya dari guru yang mengawasinya, enggak! Orang tua memfasilitasi, bahwa dia pendamping jadi begitu ada masalah, anak akan langsung mendapatkan sumber untuk memecahkan masalah itu walapun sumber pemecahan itu bukan sekedar biaya tapi dialog untuk pemecahan masalah, untuk menenangkan, memotivasi, itu perlu sekali.
Adakah pola-pola khusus untuk setiap batasan usia sekolah anak?
Ya..ya..tentu ada pola khusus.
Seperti apa, Kak Seto?
Ya.. kalau anak di SD mungkin lebih santai, rileks, kalau anak SMP-SMA mungkin lebih serius, belajarnya mugkin lebih beragam, yach..mungkin anak sekolah sudah menggunakan IT, computer.
Bagaimana dengan orang tua yang keduanya berkarier?
Saya kira sesibuk apapun juga, saya kira tetap harus punya waktu untuk anak-anaknya, jadi gak bisa dijadikan alasan, ibu sibuk, ayah sibuk jadi gak ada waktu dong, oh, gak boleh! Dan, sebagai fasilitator kita bisa saja mencarikan orang untuk menjadi guru les, ato apa saja gitu dan meski sudah ada/diikutkan bimbingan belajar, orang juga harus tetap control.
Terakhir Kak Seto, ada pesan untuk para orang tua dalam pola pendampingan untuk meningkatkan prestasi anak?
Pertama, orang tua harus membuka komunikasi itu tadi, harus menjadi pendengar yang baik, kemudian ehm..mencoba untuk menyampaikan sesuatu itu dengan jelas. Kedua, ini untuk kepentingan terbaik anak, bukan untuk ambisi orang tua, misalnya : enggak, pokoknya mama itu maunya kamu itu begini, oh, gak bisa begitu!Ketiga, orang tua harus kreatif gitu, kreatif dalam memecahkan masalah secara konstruktif terutama dengan anak-anak.
_______________________________________________
Nama : Dr. Seto Mulyadi, Psi, Msi (Kak Seto)
Lahir : Klaten, 28 Agustus 1951
Agama : Islam
Istri : Deviana
Anak : Eka Putri Duta Sari, Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita, Kartika Putri Maharani, Nindya Putri Catur Permatasari
Alamat : Jalan Taman Cirendeu Permai 13, Jakarta 15419
Buku : Anakku, Sahabat, dan Guruku (1997)
Pendidikan:
- SD Ngepos, Klaten (1963)
- SMK, Klaten (1966)
- SMA St. Louis, Surabaya (1969)
- Fakultas Psikologi UI (S1, 1981)
- Program Pascasarjana UI (Magister bidang psikologi, 1989)
- Program Pascasarjana UI (doktor bidang psikologi, 1993)
Karir:
- Ketua Pelaksana Pembangunan Istana Anak-Anak TMII (1983)
- Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia (1982-sekarang)
- Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Nakula Sadewa (1984-sekarang)
- Dekan Fakultas Psikologi Univ. Tarumanegara, Jakarta (1994-1997)
- Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (1998-sekarang)
Kegiatan Lain:
- Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (1983-1985)
- Director at-large International Council of Psychologists (1985)
- Anggota International Society for Twins Studies (1985-sekarang)
- Anggota Creative Education Foundation (1993-sekarang)
- Anggota World Council for Gifted & Talented Children (1994-sekarang)
Penghargaan:
- Orang Muda Berkarya Indonesia, kategori Pengabdian pada Dunia Anak-anak dari Presiden RI (1987)
- The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess International (1987)
- Peace Messenger Award, New York, dari Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar (1987)
- The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation & Unicef (1989)
.png
)
